Kecamatan Mijen dan Gunungpati Jajakan Mie Bebas Bahan Berbahaya

17-05-2024 Semarang Dilihat 147 kali

Semarang – BBPOM di Semarang melaksanakan Monitoring dan Evaluasi GUMREGAH (ngGugah UMKM REsik sakinG bahan berbAHaya pada Hari Kamis (16/05/24) di dua Kecamatan : Mijen dan Gunungpati. GUMREGAH merupakan inovasi BBPOM di Semarang dalam mendorong pedagang/pelaku usaha untuk tidak menggunakan bahan pangan yang mengandung bahan berbahaya. Dalam kegiatan tersebut tentunya BBPOM di Semarang tidak dapat bekerja sendiri. BBPOM di Senarang membutuhkan dukungan dari lintas sektor dan masyarakat sebagai kader keamanan pangan. “Kegiatan GUMREGAH telah kami mulai dari tahun 2022 yang diawali dengan advokasi kepada Walikota Semarang dan dilanjutkan dengan melaksanakan bimbingan teknis kepada masyarakat sebagai kader keamanan pangan di setiap kecamatan. Pada tahun 2022 GUMREGAH mengintervensi 10 Kecamatan di Kota Semarang, termasuk Kecamatan Mijen dan Gunungpati. Sedangkan pada tahun 2023 intervensi GUMGREGAH merambah 6 Kecamatan di Kota Semarang,” ucap Woro Puji Hastuti dalam sambutannya. “Sebagai apresiasi kepada pedagang yang tetap komit menjual bahan pangan tanpa bahan berbahaya, kami akan memberikan stiker bebas bahan berbahaya formalin dan boraks. Strikerisasi ini sebagai jaminan kepada konsumen bahwa produk pangan yang dijual aman,” tambahnya.

 Produk pangan yang menjadi fokus GUMREGAH adalah mie bakso, mie Jowo, dan mie kopyok yang merupakan makanan primadona masyarakat pada umumnya. Kader Keamanan Pangan Kecamatan Mijen dan Kecamatan Gunungpati bersama Sanitarian Puskemasmas Mijen dan Gunungpati melakukan monitoring secara konsisten dan kontinyu terhadap pedagang mie bakso, mie Jowo dan Mie kopyok agar tetap menggunakan mie dan bakso yang tidak mengandung formalin dan boraks.  “Terimakasih kami ucapkan kepada BBPOM di Semarang yang telah menginisiasi kegiatan GUMREGAH sehingga memberikan jaminan keamanan pangan kegemaran masyarakat dan makanan penggugah selera ketika tak nafsu makan dengan stikerisasi bebas bahan berbahaya formalin dan boraks”, tutur Didik Dwi Hartono Camat Mijen pada sambutannya.

Hasil nyata GUMREGAH yaitu adanya penurunan pedagang mie bakso, mi jowo, dan mi kopyok yang tidak lagi menggunakan mie basah yang mengandung formalin dan boraks. Penurunan tersebut adalah wujud komitmen Kader Keamanan Pangan PKK Kecamatan Mijen dan Kecamatan Gunungpati sebagai bagian penting upaya pemberdayaan masyarakat menyukseskan GUMREGAH. Camat Mijen, Didik Dwi bersama Ketua Pokja 3 TP PKK Kota Semarang secara langsung menempelkan stiker “Produk Pangan Bebas bahan Berbahaya Fomalin dan Boraks” kepada 13 pedagang Mie Bakso dan Mie Jowo di Kecamatan Mijen dan menyerahkan stiker tersebut kepada 14 pedagang di Kecamatan Gunungpati. “Semoga dengan adanya stiker ini, jualan bapak tambah laris dan berkah,” ucap Didik Dwi Hartono di akhir kegiatan Monev Gumregah.

 

“Sesuatu yang bermanfaat lebih penting daripada sesuatu yang sekedar dipandang hebat. Karena yang bermanfaat itu terasa, yang hebat kadang cuma untuk pandangan mata’”  -- Boy Candra --

Sarana