Semarang – Badan Gizi Nasional (BGN) kembali adakan Sosialisasi Pedoman Program Makan Bergizi Gratis bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Jawa Tengah secara serempak di Kota Semarang pada Sabtu (01/10/2025).
Sosialisasi tersebut dihadiri SPPG di wilayah Jawa Tengah, yaitu SPPG Kabupaten Jepara, Kabupaten Rembang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Blora, Kabupaten Kudus, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Magelang, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Pati, Kota Magelang, Kota Pekalongan, Kota Tegal, dan Kota Semarang dengan jumlah peserta kurang lebih 2960 orang yang terdiri dari Kepala SPPG, Ahli Akuntan, dan Ahli Gizi. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara terpisah di tiga tempat yaitu di UTC Hotel Semarang, Horison Ultima Semarang, dan Grand Edge Hotel Semarang.
SPPG berperan vital dalam program MBG karena sebagai garda terdepan dalam penerimaan, penyimpanan, pengolahan, dan distribusi makanan bergizi yang sehat dan aman. Dalam hal higine sanitasi, SPPG harus memastikan kondisi dapur dalam keadaan bersih, saluran limbah tidak tersumbat, sirkulasi udara yang memadai, kebersihan tempat penyimpanan, termasuk menjamin proses sterilisasi alat makan dan penanganan makanan sesuai prosedur yang ketat untuk mencegah keracunan. Selain itu juga kebersihan penjamah pangan harus diperhatikan agar tidak menyebabkan kontaminasi ke makanan yang siap untuk didistribusikan. Untuk memastikan hal tersebut SPPG mendapatkan materi tentang Sertifikasi Sertifikat Laik Higine Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Balai Pengawas Obat dan Makanan di Semarang hadir sebagai narasumber dalam sosialisasi tersebut. Apa peran BPOM dalam program MBG? Peran penting BPOM adalah memastikan keamanan dan mutu pangan dari hulu ke hilir melalui berbagai kegiatan pengawasan, termasuk kegiatan pelatihan dan sertifikasi. Pada kesempatan kali ini SPPG mendapatkan materi tentang keamanan pangan. Beberapa SPPG telah mengikuti pelatihan tentang keamanan pangan, namun kali ini ditekankan pada proses penerimaan, penyimpanan, pengolahan, penyiapan, dan pendistribusian.
“Beberapa kasus keracunan yang terjadi di beberapa daerah adalah karena makanannya basi. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena saat proses memasak belum matang sempurna, memorsikan dalam keadaan panas dan ditutup rapat, makanan telah diporsikan namun dibiarkan terbuka dalam suhu ruang yang lama, atau karena tidak ada proses pemanasan kembali (reheat) papar Putri Nur narasumber BBPOM di Semarang kala itu. Bakteri akan tumbuh subur pada suhu yang optimal (5-60˚C), kelembaban tinggi, dan makanan yang mengandung protein tinggi. Peserta dijelaskan tentang Critical Control Point (titik kendali kritis) pada tiap-tiap proses produksi dan pentingnya SOP di dapur SPPG.
Selain itu Putri menyampaikan bahwa SPPG wajib memiliki alat minimal termometer ruangan, termometer makanan, dan lemari pendingin.
“Tolong diperhatikan dan dihitung waktu selesai memorsikan, distribusi, dan konsumsi jangan sampai lebih dari 4 jam untuk menghindari tuumbuhkan bakteri pada makanan sehingga dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keracunan,” tandas Putri di akhir paparannya.
Sosialisasi Pedoman Program Makan Bergizi Gratis bagi SPPG di Wilayah Jawa Tengah ini diharapkan dapat mendukung keberhasilan program MBG dimana SPPG memiliki standar yang sama dalam hal sarana dan prasarana, sumber daya, dan dapat menyiapkan makanan yang bergizi, sehat, dan aman sesuai dengan prosedur. BPOM akan terus mengawal Program MBG ini karena setiap suap makanan bergizi adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik. (Infokom_Poe3)