BBPOM di Semarang Gelar Bimtek AMR: Bijak Gunakan Antibiotik, Lawan Resistensi Mikroba

26-06-2026 Umum Dilihat 44 kali

Semarang - BBPOM di Semarang menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Antimicrobial Resistance (AMR) dengan tema "Bijak Gunakan Antibiotik, Lawan Resistensi Mikroba". Kegiatan ini diikuti oleh tenaga kesehatan, apoteker, organisasi profesi, dan perwakilan instansi terkait sebagai upaya memperkuat pengendalian resistensi antimikroba di Jawa Tengah.

Kepala BBPOM di Semarang, Rustyawati, dalam sambutannya menegaskan bahwa resistensi antimikroba merupakan tantangan kesehatan global yang semakin serius. Menurutnya, rendahnya literasi masyarakat terkait penggunaan obat, termasuk antibiotik, masih menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya resistensi.

 

"Kita harus bergandeng tangan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar menggunakan antibiotik secara bijak. Antibiotik yang tidak dihabiskan atau disimpan untuk digunakan kembali di kemudian hari dapat meningkatkan risiko resistensi," ujar Rustyawati.

 

BPOM juga terus mendorong masyarakat melalui program Ayo Buang Sampah Obat (ABSO) sebagai bentuk edukasi agar obat yang sudah tidak digunakan tidak disimpan atau digunakan kembali tanpa pengawasan tenaga kesehatan.

 

Dalam kegiatan ini sesi materi utama disampaikan oleh Muchlis Achsan Udji Sofro seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Kariadi Semarang Muchlis Achsan menjelaskan bahwa AMR telah menjadi ancaman kesehatan global yang mengancam keberhasilan berbagai tindakan medis modern.

 

"AMR bukan ancaman masa depan, tetapi sudah terjadi saat ini. Setiap penggunaan antibiotik yang tidak tepat berpotensi mempercepat munculnya resistensi," tegasnya.

 

Muchlis juga menegaskan bahwa penggunaan antibiotik yang berlebihan maupun tidak sesuai indikasi menjadi penyebab utama meningkatnya resistensi bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik. Akibatnya, infeksi yang sebelumnya mudah diobati menjadi lebih sulit ditangani, meningkatkan risiko kematian, memperpanjang masa perawatan pasien, dan menambah biaya pelayanan kesehatan.

 

Salah satu contoh yang disampaikan adalah munculnya bakteri penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) yang mampu merusak berbagai antibiotik golongan beta-laktam sehingga terapi standar menjadi tidak efektif.

Diskusi peserta menunjukkan tingginya kepedulian terhadap isu ini. Perwakilan bidan, apoteker, hingga organisasi profesi menyampaikan pengalaman mereka dalam mengedukasi masyarakat agar tidak membeli atau menggunakan antibiotik tanpa resep dokter.

 

Selain sektor kesehatan manusia, perhatian juga diarahkan pada penggunaan antibiotik di sektor peternakan dan perikanan. Penggunaan antibiotik secara tidak bijak pada hewan ternak berpotensi menimbulkan residu antibiotik dalam rantai pangan serta mempercepat munculnya resistensi yang dapat berdampak pada kesehatan manusia.

 

Pada sesi berikutnya, Ketua Tim Kerja Pemeriksaan BBPOM di Semarang, Aryanti, memaparkan dampak AMR terhadap sistem pelayanan kesehatan. Dampak tersebut meliputi meningkatnya lama rawat pasien, biaya pengobatan yang lebih tinggi, menurunnya mutu dan keselamatan pasien, meningkatnya angka pasien yang harus dirawat kembali akibat infeksi, hingga meningkatnya angka kesakitan dan kematian.

Aryanti juga menjelaskan upaya pengawasan yang dilakukan pemerintah melalui pemeriksaan bersama (Joint Inspection) untuk memastikan pengelolaan obat manusia dan obat hewan sesuai ketentuan. Langkah tersebut bertujuan mencegah penggunaan antibiotik secara tidak tepat lintas sektor serta mendukung pendekatan One Health dalam pengendalian AMR.

 

Melalui kegiatan ini, BBPOM di Semarang berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dalam mengendalikan resistensi antimikroba. Edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat serta kepatuhan terhadap penggunaan antibiotik berdasarkan resep dokter menjadi kunci utama dalam menjaga efektivitas antibiotik bagi generasi mendatang.

 

"Antibiotik adalah sumber daya yang terbatas. Jika tidak digunakan secara bijak hari ini, maka saat benar-benar dibutuhkan di masa depan, antibiotik mungkin tidak lagi bekerja," menjadi pesan penting yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

 

 

Sarana