Semarang – BBPOM di Semarang berkolaborasi dengan Direktorat Pengawasan Peredaran Pangan Olahan menyelenggarakan Training of Trainer (TOT) Penguatan Sistem Ketertelusuran dan HACCP Pangan Olahan Siap Saji pada Rabu – Jumat, (12 -14/11/2025) bertempat di aula kantor BBPOM di Semarang yang dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kesehatan dari wilayah Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Batang, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Kendal, Kabupaten Magelang, Kabupaten, Kabupaten Rembang, Kabupaten Kudus, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Pati, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Sragen, Kabupaten Purbalingga, Kota Surakarta, Balai POM di Surakarta, Balai POM di Banyumas dan BBPOM di Semarang.
Acara dibuka oleh Kepala BBPOM di Semarang, Rustyawati yang mengungkapkan bahwa masih ada beberapa kasus keracunan pangan di Masyarakat.
“Pelajaran yang bisa kita petik dari kasus keracunan adalah dari apa yg salah. Hal ini bisa berasal dari bahan baku, proses produksi, rantai pemasok ataupun dari personil penjamah makanan. Kejadian keracunan pangan memang masih banyak yang agak sulit ditemukan penyebabnya karena banyak faktor yang berpengaruh, antara lain tidak tepat dalam proses pengambilan sampel. Penanganan pertama kepada pasien memang diutamakan,” jelas Rustyawati.
“Semua potensi yang menjadi penyebab harus diutamakan. Lebih baik jika didukung dari hasil laboratorium. Oleh karena itu, BPOM melalui Direktorat Pengawasan Peredaran Pangan Olahan berinisitiatif dan proaktif mengadakan ToT Penguatan Sistem Ketertelusuran dan HACCP Pangan Olahan Siap Saji”, imbuhnya.
“Investigasi melalui sistem ketertelusuran ini penting dilakukan karena bisa menjadi pembelajaran supaya kedepannya jangan terulang kejadian yang sama. Semua hal keracunan pangan tetap harus kita telusur . Dugaan penyebabnya itu apa bahkan kalau bisa bukan lagi penyebab tapi sudah dapat diketahui keracunan berasal dari mana,” ujar Rustyawati menutup sambutannya.
Pertemuan ini menjadi sangat penting agar petugas paham dalam menangani kejadian keracunan pangan. Perlunya peningkatan pemahaman terhadap regulasi dan prinsip ketertelusuran sesuai Peraturan BPOM Nomor 22 Tahun 2025 tentang Penarikan dan Pemusnahan Pangan Olahan juga menjadi pokok pembahasan dalam pertemuan ini. Tak hanya itu, ToT ini juga bertujuan untuk memahami tentang prinsip Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). HACCP ini sebagai upaya sistematis dalam menjamin keamanan pangan.
Kesempatan ini juga menguatkan koordinasi antara BPOM dengan Dinas Kesehatan dalam mengidentifikasi, menginvestigasi serta penanganan insiden keracunan pangan secara cepat dan tepat. Jadi dengan kita bisa berkolaborasi bisa lebih dekat lagi.
Direktur Pengawasan Peredaran Pangan Olahan, Didik Joko Pursito menyampaikan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang berperan penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.
”Bukan Pangan jika tidak aman maka pemenuhan pangan yang aman, bermutu, dan bergizi menjadi suatu keharusan. Kondisi pangan yang tidak aman dapat menyebabkan timbulnya permasalahan kesehatan masyarakat salah satunya berupa insiden keamanan pangan yang menyebabkan kesakitan hingga kematian. Kondisi pangan yang tidak aman ini juga secara signifikan dapat menjadi penghalang pembangunan socio-economic nasional dan global,” jelas Didik.
“Untuk menjawab tantangan tersebut, penerapan sistem ketertelusuran (traceability) dan HACCP menjadi instrumen kunci dalam sistem jaminan keamanan pangan. Sistem ketertelusuran memungkinkan kita untuk melacak asal-usul bahan, proses produksi, hingga distribusi produk. Sementara itu, HACCP berfungsi untuk mengidentifikasi, mencegah, dan mengendalikan potensi bahaya yang dapat mengancam keamanan pangan,” imbuh Didik.
Melalui kegiatan ToT ini, diharapkan seluruh peserta dapat memperoleh pemahaman yang mendalam dan keterampilan praktis tentang penerapan sistem ketertelusuran dan HACCP. Selain itu, melalui kegiatan ini peserta diharapkan dapat mengembangkan jejaring pelatih keamanan pangan yang solid, profesional, dan berdedikasi tinggi di wilayah masing-masing.
Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dalam mewujudkan pangan olahan siap saji yang aman, bermutu, dan berdaya saing, demi melindungi kesehatan masyarakat.